Budaya Epen, Generasi Epen






Epen ka !!! Anda pernah mendengar kata-kata ini? Atau anda adalah orang yang juga menggunakan kata-kata ini dalam kehidupan sehari-hari?

Sepenggal kalimat di atas yang terdiri dari dua kata ‘epen’ dan ka bukanlah kata baru dalam bahasa pergaulan di hampir seluruh lapisan Masyarakat Papua saat ini. Kalimat yang berasal dari Bahasa Melayu Papua yaitu Bahasa Indonesia yang mengalami perubahan bunyi berdasarkan dialek Orang Papua. Kalimat yang sederhana ini digunakan bukan hanya di kalangan anak-anak dan remaja saja tetapi pemuda-pemudi hingga orang tua yang hidup di daerah perkotaan dan di beberapa daerah suburbanpun banyak yang menggunakan kata-kata ini dalam kehidupan sehari-hari mereka.

E… Penting ka?
Kata-kata di atas inilah yang membuat terbentuknya frase kata baru dalam Bahasa Pergaulan Papua: ‘epen’. Kata ini diakhiri dengan tanda tanya. Kata ini bila dimaknai secara sederhana maka dapat berarti ‘pentingkah hal yang anda bicarakan ini, mungkin memang penting bagi anda tapi tidak penting untuk saya karena saya tidak peduli dengan hal yang sedang anda bicarakan.’

Kata ini biasanya digunakan untuk menjawab pembicaraan atau membalas kata-kata yang diucapkan oleh seseorang. Apabila mendengar seseorang membicarakan suatu hal yang serius tetapi kemudian dibalas oleh lawan bicaranya dengan kata ‘epen’. Orang pertama pasti akan menjadi marah, tersinggung atau malah jadi malas untuk melanjutkan lagi pembicaraan yang sebenarnya serius bahkan mungkin sebenarnya penting. Lebih parah lagi bila kata ‘epen’ diucapkan pada orang yang memiliki karakter serius, kata ‘epen’ justru menjadi akar masalah baru.

Seorang pejabat penting di Manokwari juga menggunakan kata ‘epen’ dalam pertemuan resmi dengan warga masyarakat beberapa waktu lalu dimana saat itu seorang anggota masyarakat dari salah satu distrik di Manokwari meminta pada pejabat ini agar ada pengadaan fasilitas alat penyaring air bersih di tempat kediaman mereka tetapi dibalas dengan kata ‘epen’ oleh pejabat tersebut. Hal ini membuktikan bahwa betapa populernya kata ‘epen’ hingga sampai juga ke tingkat para birokrat yang ada di Papua saat ini.

‘Epen’ dapat dimaknai berbeda oleh masing-masing orang yang menggunakan maupun mendengarnya dari orang lain. Tergantung suasana hati seseorang saat mendengar kata itu. ‘Epen’ dapat menjadi mop (cerita lucu versi Orang Papua) yang membuat orang banyak tertawa terpingkal-pingkal tapi ‘epen’ juga dapat membuat orang atau lawan bicara tersinggung atau bahkan kata ‘epen’ dikeluarkan oleh seseorang karena sedang dalam keadaan marah atau bahkan sebaliknya ‘epen’ menjadi sumber masalah. ‘Epen’ kemudian menjadi kata yang sarat makna.

Akhir-akhir ini kata ‘epen’ banyak juga digunakan oleh anak-anak. Hal ini mengundang keprihatinan dikalangan pendidik. Anak-anak sekarang cenderung untuk menjadi anak yang bandel karena kata ‘epen’. Bila kata ‘epen’ digunakan diantara anak-anak sesama umur saja mungkin masih dapat dimaklumi tetapi ketika ‘epen’ juga dilontarkan pada orang tua, ini mempengaruhi sikap mereka yang juga tidak menghargai orang tuanya sendiri.

Beberapa tahun yang lalu, sangat jarang seorang anak membantah perintah orang tuanya. Kenakalan anak-anak pada satu dekade lalu sangat berbeda dengan kenakalan anak-anak saat ini. Saat ini dengan menggunakan kata ‘epen’, seorang anak dapat mengekspresikan ketidakpedulian dan rasa tidak menghargai orang tuanya. Kesalahan ini tidak sepenuhnya dapat dilimpahkan pada si anak. Bila ternyata orang tuanya sendiri menggunakan kata ‘epen’ untuk menjawab pernyataan ataupun pertanyaan anaknya tanpa memahami sebab dan akibat dari ucapan itu akan ditiru oleh si anak tersebut maka akan lahir Generasi Papua Baru yang tidak lagi peduli dengan segala macam persoalan yang terjadi di sekitarnya hanya dengan mengucapkan kata ‘epen’.

Budaya ‘epen’ yang secara alamiah kemudian menjadi budaya ‘tidak peduli’ ini akan membuat banyak persoalan-persoalan sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Dengan demikian muncul juga Generasi ‘Epen” yang mana tingkat kesadaran dan kepedulian generasi ini terhadap kondisi sosialpun akan semakin berkurang dalam diri si anak pada generasi sekarang.

Lama-kelamaan, kata ‘epen’ jadi lebih cenderung bermakna negatif. Degradasi moral dapat terjadi di tengah-tengah masyarakat bila terus dibiarkan. Nilai-nilai luhur yang mengajarkan penghargaan terhadap sesama manusia terutama pada orang yang lebih tua menjadi luntur hanya karena kata ‘epen’ yang kemudian dapat melahirkan budaya baru yaitu budaya ‘epen’..
Generasi ‘epen’ akan menyaksikan kekayaan alam Papua dikeruk habis-habisan, semua asset diambil alih serta semua jabatan birokrasi pemerintahan di Papua di waktu-waktu yang akan datang dikuasai oleh Orang nonPapua, generasi ini hanya akan jadi penonton karena hanya ada kata ‘epen’ yang dipikirkan atau diucapkan saat melihat kondisi tersebut.

Bukti konkrit lain daripergeseran nilai-nilai ini juga dapat kita lihat saat orang sudah tidak ada lagi orang yang sadar dan peduli dengan Budaya ‘epen’ yang sedang berkembang saat ini. Bila Budaya ‘epen’ terus berlangsung dan mempengaruhi sikap dan pola hidup bukan hanya mempengaruhi masyarakat Papua tapi juga di kalangan birokrat maka tidak menutup kemungkinan ketidakpedulian ini terjadi saat seseorang menjadi pemimpin tapi ketika ia ditanyai soal kondisi rakyat yang mengalami kesulitan, bila jawaban yang keluar dari mulutnya adalah ‘epen ka?’. Sungguh sebuah jawaban yang memilukan hati bagi rakyat. Contoh lain, ketika seorang birokrat ditanyai tentang bagaimana dengan Otonomi Khusus di Papua? Kata ‘epen’ kembali meluncur dari mulut sang birokrat maka tidak ada lagi yang tersisa dalam tatanan hidup Rakyat Papua.

Terbukanya semua jalur komunikasi di Seluruh Nusantara saat ini akibat arus globalisasi mengakibatkan pasokan informasi yang diterima masyarakat juga beragam tanpa melalui proses penyaringan yang baik oleh pihak-pihak yang terkait. Sekarang televisi bukan lagi benda elektronik yang mahal seperti dulu sehingga masyarakat dapat langsung menyaksikan sinetron yang ditayangkan setiap hari. Kccenderungan sinetron yang Jakarta center dengan logat Betawi yang kental membuat bukan cuma komunikasi di tengah masyarakat Indonesia saja yang rusak tapi Bahasa Indonesia seolah-olah tidak lagi penting dan bukan lagi menjadi bahasa resmi.

Kata ‘epen’ sendiri cenderung memiliki makna yang hampir sama dengan istilah Emang Gue Pikirin (EGP) yang sangat khas Betawi yang populer di kalangan warga ibu kota negara itu. Kata-kata yang menunjukkan kecuekkan ini seakan menembus batas ruang dan waktu dengan kacanggihan teknologi.

Generasi Indonesiapun mengalami degradasi ini. Apalagi kata-kata EGP sering diucapkan artis-artis sinetron yang setiap malam ditonton hampir oleh sebagian besar Penduduk Indonesia tentu saja akan mempengaruhi pola pikir sekaligus tingkah laku Masyarakat Indonesia yang cenderung ke arah negatif.

Demikian juga dengan penayangan sinetron-sinetron yang tidak mendidik sesegera mungkin harus disensor bahkan bila perlu dicekal. Apalagi sinetron yang menggunakan pemeran anak-anak yang berkarakter jahat. Anak nakal memang ada tetapi anak yang jahat itu tidak ada kecuali karakter jahat pada si anak dibentuk oleh tangan-tangan jahat. Belum lagi ditambah dengan infotaiment yang menyiarkan terus kasus-kasus dalam kehidupan para artis yang banyak keluar dari nilai-nilai susila dan tidak menjadi contoh baik bagi masyarakat tapi disiarkan secara luas dan berulang-ulang. Masyarakat jadi cenderung ikut-ikutan dengan trend ini.

Karakter sebuah bangsa dibentuk oleh tradisi dan budaya yang secara terus-menerus mengalami dialektika di dalam masyarakat seiring dengan berjalannya waktu. Kekuatan sebuah bangsa terletak pada kuatnya rasa bangga pada setiap warga negara tersebut terhadap kewarganegaraannya.

Bangsa Papua yang secara khusus telah shock culture karena lompatan besar dalam sejarah perkembangan masyarakat yang tidak sempurna mengalami guncangan luar biasa yang berdampak pada sikap dan pola hidup sehari-hari. Kaget terhadap dunia luar dan trend akibat arus modernisasi. Tidak banyak Generasi Muda Papua saat ini yang bangga terhadap budayanya. Mereka cenderung menyukai musik dari luar seperti reggae yang dipopulerkan oleh Bob Marley. Memang bagi Orang Jamaica reggae adalah musik pembebasan tetapi Generasi Muda Papua melihat itu hanya dari sisi kesamaan ras yaitu sama-sama berkulit hitam. Image Global yang dibangun di tengah masyarakat global saat ini membuat Orang Papua mengalami krisis identitas diri sekaligus krisis budaya. Dampak dari semua ini lebih banyak ke arah negatif yang mana membuat Orang Papua tidak percaya diri.

Bangsa Indonesia dengan berbagai ragam suku bangsa dan budaya sebenarnya masih dalam proses menuju sebuah nation. Bangsa ini lahir dengan dengan berbagai karakter yang berbeda sehingga negara harus mampu menjaga nilai-nilai budaya sebagai kekayaan bangsa yang tiada taranya. Negara juga bertanggung jawab atas kelestarian berbagai budaya yang berbeda ini karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budaya bangsanya sendiri.

Mari kita coba bersama-sama untuk tidak lagi menggunakan kata ‘epen’ dalam kehidupan sehari-hari untuk dapat membantu proses mengembalikan moral Generasi Penerus Papua.. Semoga.
Read more...

Ahli Kriptografi = Ahli Matematika

Di Amerika, karir sebagai seorang matematikawan sangatlah menjanjikan, tidak seperti di Indonesia… Salah satunya adalah bekerja di NSA (National Security Agency) Amerika, atau kalau di Indonesia bisa dipadankan dengan Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg)… Dan tidak tanggung-tanggung, NSA bekerja sama dengan AMS (American Mathematical Society) untuk mencari bibit-bibit calon cryptographer handal, sebab pada dasarnya inti dari kriptografi sendiri adalah matematika, bukan yang lain, dan NSA sadar akan hal itu… Tapi entahlah kalo di Indonesia… gw kagak tau! he2…
Keahlian matematika yg dibutuhkan oleh NSA adalah: Teori Bilangan, Teori Grup, Lapangan Hingga (Finite Field), Aljabar Linear, Teori Probabilitas, Statistik Matematik, Kombinatorik, dan sebagainya. Bagi yg pengen liat iklan lowongannya bisa baca di majalah bulanan AMS “Notices” yang ada di Perpustakaan Jurusan Matematika FMIPA UGM, atau bisa juga dengan melihat websitenya di http://www.nsa.gov/careers/career_fi…hematics.shtml.
Berikut ini cuplikannya:
NSA Mathematicians spend their days focusing on some of today’s most distinctive challenges and problems. They apply Number Theory, Group Theory, Finite Field Theory, Linear Algebra, Probability Theory, Mathematical Statistics, Combinatorics, and more. We encourage our Mathematicians to participate in interdisciplinary assignments and train with professionals in such fields as Computer Science and Signals Analysis.
Your education is far from complete when you join NSA. Both formal and informal seminars are routinely organized among our scholars to study specific, timely, Mathematics-related topics, while professional organizations sponsor regular discussions on issues of broader interest.
Career Paths in Mathematics
NSA Mathematicians apply their skills to such tasks as:
* Designing and analyzing complex algorithms
* Expressing difficult cryptographic problems in Mathematic terms
* Applying your work to find a solution or demonstrating that a solution cannot be found, given certain computational limitations and reasonable time limits
Read more...

Telaga Sarawandori

Telaga Sarawandori, bagaikan mutiara indah yang masih tersembunyi di Papua !!!




Telaga Sarawandori, bagaikan mutiara indah yang masih tersembunyi di Papua.


Pantai biru bercampur hijau


Keasriannya masih benar-benar asli, cantik tanpa dandanan prasarana apapun.


Lautan nan biru disambut dengan air tawar dari telaga.


Telaga Sarawandori merupakan perpaduan air laut dan air tawar.


Warna airnya kehijauan sangat bening


Wow perjalanan yang sungguh cantik...


Bagaikan di telaga dongeng ........


Rimbunnya hutan ditepi telaga ..... sejuk, jernih, asri.


Anak-anak di Sarawandori ....... bersahabat walau malu-malu..


Kejernihan airnya ........ mampu mengungkap semua yang ada di dalam telaga.


Bintang lautpun dengan mudah untuk dipungut.


Telaga Sarawandori, mutiara indah yang terletak 30 km dari kota Serui, Kabupaten Japen Waropen, Papua.


Indonesia memang luar biasa kekayaan alamnya. Anda tidak akan pernah membayangkan keindahan seperti apa yang dapat Anda nikmati bila menikmati telaga yang begitu bening dan mempesona seperti Telaga Sarawandori. Telaga berwarna biru dengan panorama yang sangat indah ini terletak di desa Sarawandori, sekitar 5 km dari kota Serui, ibukota kabupaten Yapen, Papua. Di sini dibangun sebuah objek wisata yang ramai dikunjungi oleh masyarakat kota Serui pada hari Minggu dan hari-hari libur lainnya. Selain sebagai objek wisata juga tersedia rumah-rumah untuk tempat istirahat melepas lelah sambil bermalam. Obyek wisata ini dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Yapen Waropen di Serui. Jauh dari keramaian dan masih amat alami, akan membuat liburan Anda tidak akan terlupakan.

Telaga Sarawandori memang menyimpan potensi wisata bahari yang menarik wisatawan, karena telaga ini benar-benar masih "perawan" bening dan berwarna biru. Pemerintah Kabupaten Yapen membangun pondok-pondok istirahat dimana para pengusaha membuka rumah makan, restoran, kafetaria hingga karaoke.

Telaga yang diapit dua tanjung di bagian Barat Kota Serui itu pernah menjadi tempat persembunyian kapal perang tentara sekutu pimpinan AS ketika perang dunia ke-II melawan Jepang dimana pasukan sekutu dibawah komando McArthur membumi-hanguskan Kota Hiroshima dan Nagasaki.
Read more...

MUMI KHAS PAPUA



Kebanyakan orang di dunia mengidentikkan Mumi dengan Mesir karena sejarah Mumi para Firaun di Mesir. Namun demikian, sejarah panjang mumi ternyata ada juga dalam hidup orang Papua.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada akhir tahun 1980-an sampai awal tahun 1990-an, telah ditemukan tujuh mumi di Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Yahukimo. Ketujuh Mumi tersebut berada di:

(a) Kecamatan Kurulu, utara Kota Wamena sebanyak sebanyak 3 mumi;
(b) Kecamatan Assologaima, barat Kota Wamena sebanyak 3 mumi,
(c) serta satu mumi di Kecamatan Kurima Kab. Yahokimo adalah satu-satunya mumi perempuan.

Dari ketujuh mumi tersebut, hanya mumi Werupak Elosak di Desa Aikima dan mumi Wimontok Mabel di Desa Yiwika – Kecamatan Kurulu – Kabupaten Jayawijaya yang sudah dikenal para wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang mengunjungi kabupaten Jayawijaya karena masyarakat pribumi membuka peluang kepada masyarakat di luar untuk menyaksikannya. Namun untuk melihat mumi-mumi tersebut, para wisatawan harus membayar.


Mumi Werupak Elosak(nama ketika masih hidup) berumur sekitar 230 tahun. Pakaian tradisional yang dikenakan, seperti koteka, masih utuh. Ia adalah panglima perang dan meninggal akibat luka tusukan sege (tombak). Lukanya pun masih terlihat jelas hingga kini. Jasad Werupak dijadikan mumi, selain untuk menghormati jasa semasa hidupnya, juga karena Werupak sendiri yang meminta. Ia ingin supaya mayatnya diawetkan.

Hal ini berbeda dengan mumi Wimontok Mabel. Ia adalah seorang kepala suku. Wimontok mempunyai arti perang terus. Karena semasa hidupnya ia kepala suku perang yang ahli strategi. Wimontok meninggal akibat usia tua dan memberi wasiat kepada keluarganya agar jasadnya diawetkan. Dari segi ukuran, mumi ini lebih kecil ketimbang Weropak. Namun, kondisinya masih lebih bagus.

Setiap lima tahun sekali diadakan upacara adat untuk melingkarkan semacam kalung di leher Wimontok. Upacara tersebut disertai pemotongan babi. Lalu lemak dari babi itu dioleskan ke seluruh tubuh mumi. Dari kalung tersebutlah perkiraan umur mumi didapat, yaitu sekitar 382 tahun.


Salah satu Mumi berusia 365 tahun di pedalaman Wamena yang masih bisa kita lihat langsung. Cukup dengan membayar sejumlah yang diminta, Mumi akan dikeluarkan. Tapi sayangnya, tindakan itu juga yang akan mempercepat proses kerusakan si Mumi.

Para mumi ini dibuat dengan menggelar upacara sakral. Dilanjutkan dengan pengasapan jenazah selama tiga bulan terus-menerus. Setelah menjadi mumi, perawatan selanjutnya ditangani kaum laki-laki saja. Karena menurut adat setempat, sentuhan wanita akan membuat mumi menjadi rusak serta mendatangkan malapetaka bagi wanita tersebut dan lingkungan sekitar. Mumi-mumi ini hanya diletakkan di dalam sebuah kotak kayu dan disimpan dalam pilamo, rumah adat khusus laki-laki.

Tidak semua mayat/jasad yang diperbolehkan menjadi atau dijadikan mumi. Hanya yang mempunyai jasa besar terhadap suku seperti kepala suku atau panglima perang yang secara adat diizinkan menjadi mumi.


Nilai ekonomi

Setiap wisatawan yang hendak melihat dikenai biaya 30.000 per orang dan yang hendak berfoto dengan mumi ini dikenai biaya Rp 20.000 sekali foto. Di pojok halaman, dekat dengan honai yang menjadi tempat mumi bersemayam ada kios kecil yang menjual suvenir.

Source
Read more...

Puncak Jayawijaya Dulunya Dasar Laut

Mistery

Puncak Jayawijaya Dulunya Dasar Laut




Bagi pendaki gunung, mendaki jajaran Pegunungan Jayawijaya adalah sebuah impian. Betapa tidak, pada salah satu puncak pegunungan itu terdapat titik tertinggi di Indonesia, yakni Carstensz Pyramide dengan ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Jangan heran jika pendaki gunung papan atas kelas dunia selalu berlomba untuk mendaki salah satu titik yang masuk dalam deretan tujuh puncak benua tersebut. Apalagi dengan keberadaan salju abadi yang selalu menyelimuti puncak itu, membuat hasrat kian menggebu untuk menggapainya.

Tetapi, siapa yang menyangka jika puncak bersalju itu dahulunya adalah bagian dari dasar lautan yang sangat dalam!.Pulau Papua mulai terbentuk pada 60 juta tahun yang lalu. Saat itu, pulau ini masih berada di dasar laut yang terbentuk oleh bebatuan sedimen. Pengendapan intensif yang berasal dari benua Australia dalam kurun waktu yang panjang menghasilkan daratan baru yang kini bernama Papua. Saat itu, Papua masih menyatu dengan Australia.

Keberadaan Pulau Papua saat ini, tidak bisa dilepaskan dari teori geologi yang menyebutkan bahwa dunia ini hanya memiliki sebuah benua yang bernama Pangea pada 250 juta tahun lalu. Pada kurun waktu 240 juta hingga 65 juta tahun yang lalu, benua Pangea pecah menjadi dua dengan membentuk benua Laurasia dan benua Eurasia, yang menjadi cikal bakal pembentukan benua dan pegunungan yang saat ini ada di seluruh dunia.
Pada kurun waktu itu juga, benua Eurasia yang berada di belahan bumi bagian selatan pecah kembali menjadi benua Gonwana yang di kemudian hari akan menjadi daratan Amerika Selatan, Afrika, India, dan Australia.


Saat itu, benua Australia dengan benua-benua yang lain dipisahkan oleh lautan. Di lautan bagian utara itulah batuan Pulau Papua mengendap yang menjadi bagian dari Australia akan muncul di kemudian hari. Pengendapan yang sangat intensif dari benua kanguru ini, akhirnya mengangkat sedimen batu ke atas permukaan laut. Tentu saja proses pengangkatan ini berdasarkan skala waktu geologi dengan kecepatan 2,5 km per juta tahun.
Proses ini masih ditambah oleh terjadinya tumbukan lempeng antara lempeng Indo-Pasifik dengan Indo-Australia di dasar laut. Tumbukan lempeng ini menghasilkan busur pulau, yang juga menjadi cikal bakal dari pulau dan pegunungan di Papua.

Akhirnya proses pengangkatan yang terus-menerus akibat sedimentasi dan disertai kejadian tektonik bawah laut, dalam kurun waktu jutaan tahun menghasilkan pegunungan tinggi seperti yang bisa dilihat saat ini.
Bukti bahwa Pulau Papua beserta pegunungan tingginya pernah menjadi bagian dari dasar laut yang dalam dapat dilihat dari fosil yang tertinggal di bebatuan Jayawijaya.

Meski berada di ketinggian 4.800 mdpl, fosil kerang laut, misalnya, dapat dilihat pada batuan gamping dan klastik yang terdapat di Pegunungan Jayawijaya. Karena itu, selain menjadi surganya para pendaki, Pegunungan Jayawijaya juga menjadi surganya para peneliti geologi dunia.
Sementara terpisahnya daratan Australia dengan Papua oleh lautan berawal dari berakhirnya zaman es yang terjadi pada 15.000 tahun yang lalu. Mencairnya es menjadi lautan pada akhirnya memisahkan daratan Papua dengan benua Australia.


Masih banyak rahasia bebatuan Jayawijaya yang belum tergali. Apalagi, umur Pulau Papua ini masih dikategorikan muda sehingga proses pengangkatan pulau masih terus berlangsung hingga saat ini. Ini juga alasan dari penyebutan Papua New Guinea bagi Pulau Papua, yang artinya adalah sebuah pulau yang masih baru.

Sementara keberadaan salju yang berada di beberapa puncak Jayawijaya, diyakininya akan berangsur hilang seperti yang dialami Gunung Kilimanjaro di Tanzania. Hilangnya satu-satunya salju yang dimiliki oleh pegunungan di Indonesia itu disebabkan oleh perubahan iklim secara global yang terjadi di daerah tropis.

Sumber : LINK

Read more...

Menanam Bibit Bukti Pembangunan Pendidikan di Kampung (Bagian Kedua)

Oleh Yosef Rumaseb
Email : yosef.rumaseb@hotmail.com

Dunia kerja mengharuskan penguasaan IPTEK. Persaingan kerja melibatkan orang dari berbagai daerah dan negara. Tantangan kita adalah meningkatkan kualitas pendidikan anak kampung di Papua supaya tidak kalah bersaing dan lalu menjadi pengemis di negerinya sendiri.

Memang, konstitusi mengharuskan pemerintah untuk menyediakan pendidikan bagi seluruh anak bangsa. Tapi, saya asumsikan peran dan tanggung jawab pemerintah sebagai faktor given dalam pembangunan pendidikan. Artinya pemerintah sudah pasti akan menjalankan peran dan tanggung jawabnya. Maka fokus saya adalah mengajak kita berefleksi untuk menyamakan persepsi tentang peran kita dalam pembangunan pendidikan anak kampung. ”Kita” yaitu orang tua, anak sekolah, guru, tokoh agama, mahasiswa, pemerhati. Siapapun dia, sebanyak yang mencintai anak-anak bangsa di kampung-kampung di Papua.

oo0oo

Pada masa kanak-kanak, (1970-an), saya bersekolah di kampong terpencil, karena ayah saya bekerja sebagai mantri kesehatan di sana. Kampung itu di pedalaman selatan di Merauke, sekarang kampung-kampung itu sudah masuk wilayah Kabupaten Digoel. SD di Kampung Boma dan kemudian SMP di kampung Kawagit. Kampung ini dekat dengan perbatasan RI – Papua Nugini. Terisolir. Gaji ayah saya sebagai PNS, 6 bulan sekali baru diterima. Benar-benar terisolasi.

Saya ke sekolah jalan kaki, tanpa sendal, berpakaian bebas. Gedung sekolah kami beratap daun sagu, berdinding gaba-gaba. Guru hanya 3 orang untuk 6 kelas. Kami menggunakan batu tulis dalam proses belajar. Gembira sekali kalau mendapatkan nilai bagus, nilai dari Bapa Guru biasanya ditulis dengan kapur tulis di atas batu tulis. Kalau menerima nilai bagus, sengaja nilai itu kami tempel dan membekas di pipi. Semua orang yang melihatnya berkomentar dan memberi apresiasi. Bangga nian.

Tidak banyak buku referens waktu itu kecuali beberapa peninggalan jaman Belanda, karya I.S. Kijne. ”Ini apa, Ini api, babi lari, mana air, ini air ... api mati”. Dan berbagai pelajaran berhitung yang dasar-dasar pengajarannya dilakukan dengan menggunakan potongan lidi dari kelapa atau sagu. ”Satu lidi tambah satu lidi, sama dengan dua lidi.dst”. Benar-benar kampung oriented. Kemudian sejumah buku bacaan baru diintroduksi dari dari Jawa. ”Ini Ibu Budi, itu Bapa Budi”. Referens terakhir ini kemudian menjadi lelucon, ”Ini Budi ja pu bapa, itu Budi ja pu mama”. Hahahahaha.

Pelajaran juga ditambah dengan seni suara dan berkebun. Lagu-lagu membuat kecintaan terhadap kampung halaman dan lingkungan hidup, selain mengenai seni suara sendiri, meningkat. Lagu-lagu seperti “Desaku Yang Kuncintai”, “Dengarlah Suara Satwa di Dalam Hutan”. “Kucangkul ee, tanam ee .. kujadikan kebun kecil ku sendiri”. Indah sekali lagu-lagu itu dinyanyikan saat berkebun Dan ketika waktu panen tiba, hasil kebun (entah itu kacang tanah, pisang, ubi, dll) dibagi untuk Bapa/Ibu Guru, sisanya untuk pesta sekolah.

Setiap hari sabtu anak-anak sekolah cari kayu bakar, ikan, sayur dan bawa untuk Bapa Guru dan Mama Nyora. Hubungan guru murid, menurut saya, indah sekali. Sekalipun kadang kami dicambuk, prinsipnya adalah ”ada emas di ujung rotan”. Guru tetap dihormati, disegani, dan karena itu dia dan keluarganya betah.

Pendidikan agama menjadi salah satu yang utama. Dan, karena penduduk kampung-kampung tersebut beragama Kristen, maka kerja sama dengan pihak gereja dalam membina mental spritual anak-anak menjadi prioritas gereja. Berbagai katekisasi, sekolah minggu, dan ibadah minggu melengkapi pelajaran agama di sekolah. Ada kerja sama yang demikian baik.

Dasar-dasar di SD dan SMP di pedalaman selatan Papua itu ternyata mampu menyiapkan saya untuk percaya diri, tampil sebagai anak kampung yang sekolah di kota, juara kelas mengalahkan anak-anak kota, dan bisa melanjutkan pendidikan ke kampus di kota besar. Saya kemudian bekerja di satu kantor yang bertaraf international, memiliki jaringan kerja di lebih dari 100 negara di dunia. Dan beberapa kali saya mewakili misi kantor ke berbagai negara, seperti Australia, Amerika, Inggris dan ke Belanda selain juga di berbagai kota di Indonesia dan Papua.

Pendidikan di kampung memberi saya dasar yang kuat untuk tampil percaya diri sebagai anak kampung, saya tetap anak kampung sampai saat ini, tapi yang tidak kampungan. Saya memiliki kualitas tertentu yang memampukan saya masuk dalam pergaulan dan persaingan global. Pendidikan di kampung memampukan saya menempatkan diri dalam proses globalisasi.

oo0oo

Hari ini, saya merenung. Apa hikmah dari semua itu? Hikmah pertama, bahwa kualitas pendidikan seorang anak tidak ditentukan oleh mewahnya gedung sekolah dan gemerlapnya baju, sepatu dan tas sekolah yang digunakan. Juga tidak ditentukan oleh kaya miskinnya orang tua kita. Tidak ditentukan apakah kita tinggal di kota megah atau di kampung terpencil. Kualitas pendidikan ditentukan mulai dari proses-proses dalam rumah tangga kita (sekalipun keluarga kita hidup di gubuk), lingkungan sosial positif di mana mental spritual kita dibentuk secara baik oleh agama dan adat, dan oleh dasar-dasar yang kuat dalam proses pendidikan di sekolah dasar serta pengembangan yang tepat pada jenjang berikutnya.

Kedua, kurikulum pendidikan yang mendukung. Waktu lalu, kurikulum dititik-beratkan pada pendidikan bahasa (membaca, dikte, imalah, bahasa asing (Belanda/Inggris/Melayu/Bahasa Daerah, dll). Bahasa adalah pintu ilmu pengetahuan. Berikutnya adalah membentuk logika dengan pendidikan dan pengajaran matematika menggunakan alat bantu yang ada di kampung. Dan berikutnya adalah pendidikan budi pekerti melalui pendidikan agama yang secara baik melibatkan sekolah, lembaga agama, orang tua, tokoh masyarakat dan anak.

Ketiga, banyak orang Papua yang pintar yang dulunya bersekolah juga di kampung, dengan kondisi pendidikan yang sama seperti atau mirip dengan kondisi saya alami dan yang saya cerita di atas. Beberapa orang ternama bisa kita sebut. Dr. Benny Giay, Barnabas Suebu, SH, Dr. Agus Sumule, Dr. Frans Wanggai, Dr. Sagisolo, beberapa jenderal asli Papua seperti Freddy Numberi, Bram Atururi, dan masih banyak lagi sehingga akan makan ruang besar untuk menuliskannya satu per satu. Fakta empirik itu memberi keyakinan bahwa pendidikan anak-anak dari kampung-kampung terpencil di Papua dapat menghasilkan pemimpin bangsa.

Keempat, kondisi di kampung-kampung kita di Papua saat ini masih memungkinkan untuk dibenahi, jika kita mau. Hubungan guru dengan orang tua dan anak sekolah yang saling memberi dan menerima masih bisa dibangun. Rasa memiliki guru terhadap pembangunan masa depan anak sekolah, masih amat sangat mungkin untuk dikembangkan. Peranan lembaga agama dan lembaga adat untuk turut membentuk budi pekerti anak sedang berlangsung baik dan masih mungkin untuk dikembangkan. Kita belum kehilangan hal-hal mendasar yang bisa kita gunakan membangun masa depan anak kampung.


oo0oo

Pertanyaannya, apakah kita mau memulainya di kampung kita masing-masing?

(bersambung)
Read more...

:::PENGUNGUMAN:::
English French German Spain Italian Dutch