Taman Nasional Lorentz


Taman Nasional Lorentz




Taman Nasional Lorentz merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dan Pasifik. Kawasan ini juga merupakan salah satu diantara tiga kawasan di dunia yang mempunyai gletser di daerah tropis. Membentang dari puncak gunung yang diselimuti salju (5.030 meter dpl), hingga membujur ke perairan pesisir pantai dengan hutan bakau dan batas tepi perairan Laut Arafura. Dalam bentangan ini, terdapat spektrum ekologis menakjubkan dari kawasan vegetasi alpin, sub-alpin, montana, sub-montana, dataran rendah, dan lahan basah.

Selain memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, terdapat pula beberapa kekhasan dan keunikan adanya gletser di Puncak Jaya dan sungai yang menghilang beberapa kilometer ke dalam tanah di Lembah Balliem.

Sebanyak 34 tipe vegetasi diantaranya hutan rawa, hutan tepi sungai, hutan sagu, hutan gambut, pantai pasir karang, hutan hujan lahan datar/lereng, hutan hujan pada bukit, hutan kerangas, hutan pegunungan, padang rumput, dan lumut kerak.

Jenis-jenis tumbuhan di taman nasional ini antara lain nipah (Nypa fruticans), bakau (Rhizophora apiculata), Pandanus julianettii, Colocasia esculenta, Avicennia marina, Podocarpus pilgeri, dan Nauclea coadunata.

Jenis-jenis satwa yang sudah diidentifikasi di Taman Nasional Lorentz sebanyak 630 jenis burung (± 70 % dari burung yang ada di Papua) dan 123 jenis mamalia. Jenis burung yang menjadi ciri khas taman nasional ini ada dua jenis kasuari, empat megapoda, 31 jenis dara/merpati, 30 jenis kakatua, 13 jenis burung udang, 29 jenis burung madu, dan 20 jenis endemik diantaranya cendrawasih ekor panjang (Paradigalla caruneulata) dan puyuh salju (Anurophasis monorthonyx).

Satwa mamalia tercatat antara lain babi duri moncong panjang (Zaglossus bruijnii), babi duri moncong pendek (Tachyglossus aculeatus), 4 jenis kuskus, walabi, kucing hutan, dan kanguru pohon.
Taman Nasional Lorentz ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO dan Warisan Alam ASEAN oleh negara-negara ASEAN.


Taman nasional ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan ditunjang keanekaragaman budaya yang mengagumkan. Diperkirakan kebudayaan tersebut berumur 30.000 tahun dan merupakan tempat kediaman suku Nduga, Dani Barat, Amungme, Sempan dan Asmat. Kemungkinan masih ada lagi masyarakat yang hidup terpencil di hutan belantara ini yang belum mengadakan hubungan dengan manusia modern.

Suku Asmat terkenal dengan keterampilan pahatan patungnya. Menurut kepercayaannya, suku tersebut identik dengan hutan atau pohon. Batang pohon dilambangkan sebagai tubuh manusia, dahan-dahannya sebagai lengan, dan buahnya sebagai kepala manusia. Pohon dianggap sebagai tempat hidup para arwah nenek moyang mereka. Sistem masyarakat Asmat yang menghormati pohon, ternyata berlaku juga untuk sungai, gunung dan lain-lain.

Lorentz ditunjuk sebagai taman nasional pada tahun 1997, sehingga fasilitas/sarana untuk kemudahan pengunjung masih sangat terbatas, dan belum semua obyek dan daya tarik wisata alam di taman nasional ini telah diidentifikasi dan dikembangkan.

Musim kunjungan terbaik: bulan Agustus s/d Desember setiap tahunnya.

Cara pencapaian lokasi:
Dari kota Timika ke bagian Utara kawasan menggunakan penerbangan perintis dan ke bagian Selatan menggunakan kapal laut melalui Pelabuhan Sawa Erma, dilanjutkan dengan jalan setapak ke beberapa lokasi.




Kantor : Jl. Raya Abepura Kotaraja PO Box 1217
Jayapura 99351, Papua Barat
Telp. (0967) 581596; Fax (0967) 585529



Dinyatakan ---
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 154/Kpts-II/1997
dengan luas 2.450.000 hektar
Ditetapkan ---
Letak Kab. Paniai, Kab. Fak-fak, dan Kab.
Merauke, Provinsi Papua/Irian Jaya
Temperatur udara 29° - 32° C di dataran rendah
Curah hujan 3.700 – 10.000 mm/tahun
Ketinggian tempat 0 – 5.000 meter dpl.
Letak geografis 3°41’ - 5°30’ LS, 136°56’ - 139°09’ BT
Read more...

Kayu Gaharu, Sang Pohon Dewa !!!

Kayu Gaharu, Sang Pohon Dewa !!!


Lompatan gaya hidup telah terjadi. Mereka yang semula hidup dengan pola natura kini dihadapkan pada sebuah dunia dagang yang penuh hiruk pikuk. Aneka jenis barang yang tak pernah mereka temukan sebelumnya tiba-tiba hadir di depan mata. Beras dengan cepat menggantikan sagu, senapan angin mengganti panah, dan dayung tergantikan oleh perahu bermesin. Bahkan, barang-barang elektronik begitu mudah didapat, termasuk segala jenis barang yang sebelumnya hanya dinikmati masyarakat yang mengaku modern.

Gaharu benar-benar menjadi magnit. Hutan-hutan yang sebelumnya tak pernah diinjak manusia tak sejengkal pun lolos dari perhatian para pendatang. Awalnya, perburuan gaharu hanya dilakukan di wilayah pesisir Laut Arafuru seperti di Agats. Namun setelah delapan tahun, nafsu untuk memburu kayu ini telah merambah jauh ke pedalaman di sepanjang dataran rendah Asmat hingga ke lereng-lereng gunung di Wamena.

Gaharu sebenarnya adalah sebuah virus yang menginfeksi pohon-pohon jenis aquilaria yang hidup di dataran rendah dan rawa-rawa. Infeksi virus itulah yang kemudian membuat gubal pohon ini menjadi wangi dan diburu orang karena berharga mahal. Di wilayah Asmat satu kilogram kayu gaharu kualitas super bisa dihargai hingga Rp 8 juta. Sedangkan di wilayah lain seperti di Jawa harganya bisa melonjak hingga Rp 15 juta per kilogram. Perburuan kayu gaharu di Papua sebenarnya sudah dimulai sejak dimulai 1990 seiring punahnya kayu cendana di Nusatenggara dan semakin langkanya gaharu di Kalimantan.


KISAH perburuan gaharu di Papua dimulai sejak 1990 ketika sejumlah hutan gaharu di Kalimantan, Sulawesi, dan Sumbawa (NTB) mulai punah. Pemburu dan pemodal mulai melirik Papua sebagai daerah sasaran perburuan gaharu.

Perburuan dimulai di hutan-hutan pedalaman Jayapura, kemudian beralih ke Mimika, terus sampai pedalaman Merauke yakni wilayah suku Asmat. Walau menghadapi berbagai kesulitan geografis namun pemburu ini mencarter helikopter untuk berburu gaharu di pedalaman Papua.

Di Mimika, tahun 2001 terjadi pembantaian tujuh pencari gaharu asal Sulawesi di Kali Kopi, Mimika oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM). Pencarian gaharu diduga dibekingi oknum aparat keamanan, yang pada saat itu membangun pos komando khusus di Kali Kopi untuk memantau dan mengawasi keamanan para pencari gaharu.

Worl Wide fund for Nature (WWF) Bioregion Sahul, Papua melaporkan, pemburu gaharu saat ini menguasai sebagian Taman Nasional Laurentz. Mereka berhasil membujuk penduduk setempat kemudian masuk ke pedalaman Taman Nasional Laurentz, merusak hutan dan satwa di dalam taman itu.

Mereka tidak hanya mengambil gaharu, tetapi sekali jalan mereka juga mengambil burung cenderawasih, kasuari, rusa, dan kanguru serta tumbuh-tumbuhan tertentu. Para pemburu gaharu ini mendapat dukungan kuat dari pengumpul di kota. Mereka dibekali bahan makanan dan uang selama berburu di hutan, kata Direktur WWF Bioregion Sahul, Benya Mambay.

Informasi yang diterima seorang pemburu gaharu yang tidak bersedia disebut namanya, mereka mendapat senjata (pistol) dari aparat keamanan selama berburu gaharu di hutan Kali Kopi, Mimika. Tetapi syaratnya, hasil perburuan gaharu dan hewan lain yang ditemukan di hutan dibagi dengan anggota TNI itu.

Berburu gaharu di Papua penuh risiko dan tantangan. Kondisi geografis yang sulit ditempuh, berikut kehadiran OPM yang menguasai sebagian wilayah hutan rimba. Karena itu pemburu gaharu sering bekerja sama dengan aparat keamanan sehingga mendapat akses ke pedalaman.



MENGAPA gaharu begitu diminati


Tidak semua orang mengerti dan mengenal gaharu secara keseluruhan. Penduduk lokal pun tidak paham mengenai fungsi gaharu.

Kayu ini menjadi berarti bagi orang Papua ketika warga pendatang mulai ramai-ramai mencari dan memburu. Perburuan gaharu dimulai pada tahun 1990, namun orang Papua mulai menyadari fungsi hutan gaharu setelah tahun 1997, saat Gubernur Papua Jacob Pattipi resmi melepas ekspor kayu gaharu pertama dari Papua sebanyak 4,5 ton melalui PT Artha Group ke Singapura dan Cina.

Perusahaan itu, sejak saat itu dipercaya menjadi pengumpul gaharu. Namun, perusahaan tersebut tidak beroperasi lagi di Papua menyusul sejumlah anak buahnya disandera OPM di Kali Kopi, Mimika.

Gaharu adalah sejenis kayu yang menghasilkan gubal. Gubal ini jika dibakar mengeluarkan aroma wangi. Jenis pohon penghasil gubal ini, banyak ditemukan di hutan primer India, Burma, Malaysia, Indonesia, dan Filipina, 300-600 meter dari permukaan laut (dpl).

Kayu gaharu mudah rusak sehingga sangat jarang dipakai sebagai bahan bangunan. Kayu ini lebih banyak dimanfaatkan untuk dupa, dan upacara adat dan agama jika telah menghasilkan gubal. Selain itu juga bisa sebagai bahan kosmetik, obat reumatik, obat gosok, tonikum, penyembuh perut kembung, dan seterusnya. Dengan proses penyulingan, kayu ini dapat menghasilkan minyak asiri.


Kayu gaharu termasuk suku Tymelameaceae, marga Aquilaria. Jenisnya antara lain, Aquilaria malaccaensis, Aquilaria agallocha, Aqiliaria microcarpa, Gonystylus spp, dan Aquilaria sinensis. Jenis yang paling digemari pemburu gubal gaharu karena wanginya adalah Aquilaria malaccaensis. Di Papua lebih banyak didomininasi jenis Aquilaria microcarpa kecuali wilayah selatan Papua yakni Merauke, Timika, dan Fakfak lebih banyak jenis Aquilaria malaccaensis.

Semestinya pemburu gaharu sudah melalang buana di seluruh hutan rimba Papua. Tetapi kondisi geografis yang begitu sulit dijangkau, ditambah keamanan tidak stabil membuat pencari gaharu berhati-hati.

Di samping itu, panjangnya mata rantai dan biaya transportasi yang mahal dari perburuan hingga perdagangan antarpulau membuat tidak banyak orang terlibat dalam bisnis ini. Tetapi tidak sedikit yang berani mempertaruhkan dana puluhan bahkan ratusan juta rupiah untuk meraup untung yang bisa dipastikan tidak kecil pula.

Perburuan gaharu jenis Aquilaria malaccaensis dan sejenisnya begitu gencar karena memiliki nilai ekonomis tinggi. Melalui proses alamiah kayu ini dapat menghasilkan gubal yang aromanya harum. Gubal gaharu adalah kayu gaharu yang mengalami pelapukan dan mengandung damar wangi (aromatic resin) sebagai akibat serangan jamur.

Kandungan damar wangi ini menyebabkan gubal gaharu menjadi komoditas ekspor demi kepentingan industri dan parfum, hio, setanggi (dupa), dan obat-obatan. Nilai ekonomi yang diperjualbelikan di kalangan masyarakat pemilik hak ulayat seperti di Agats, Etji, Atsj, dan Sawaerma Rp 7,5 juta - Rp 10 juta per kg untuk jenis super.

Sebagai komoditas ekspor sumbangan gubal gaharu untuk devisa negara termasuk tinggi. Tahun 1997, devisa negara yang dihasilkan Rp 270,82 milyar hanya dengan volume 309,8 ton.

Untuk mendapatkan gubal gaharu, pemburu mencari dan menebang pohon gaharu di hutan. Dalam proses ini sering tidak ditemukan gubal yang berharga, tetapi pohon telanjur ditebang. Akibatnya, hutan rusak dan jenis kayu langka ini pun mulai punah.

Penebangan pohon gaharu semakin tinggi akibat permintaan pasar akan gubal gaharu makin tinggi. Sementara produksi masih sangat tradisional, hanya mengandalkan penebangan pohon di hutan. Ini terjadi karena pengetahuan dan keterampilan pemburu atau masyarakat pemegang hak ulayat masih sangat rendah mengenai gaharu.

Kepunahan gaharu di sebagian wilayah Asia mendorong sidang Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) IX di Florida, November 1994 memutuskan pohon gaharu dimasukkan di dalam Appendix II. Artinya, penebangan kayu gaharu dan ekspor hasil ikutannya seperti gubal gaharu harus dibatasi.

Papua memiliki hutan yang begitu luas (3,5 kali luas Pulau Jawa) dengan penduduk 2,2 juta jiwa (2000). Tingkat kepadatan penduduk sekitar 5.500 per km2. Dengan demikian sangat sulit masyarakat melakukan kontrol dan pengawasan terhadap perburuan gaharu liar di hutan belantara Papua.

Apalagi, di tengah kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan keterisolasian yang sedang menimpa masyarakat. Masyarakat mudah ditipu dan dibohongi.

Di Papua dalam aksinya para pemburu gaharu selalu membawa bahan kebutuhan pokok selama berkelana di hutan. Kepada masyarakat pemilik tanah adat, pencari gaharu menawari kebutuhan pokok seperti gula pasir, rokok, ikan kering, beras, dan seterusnya yang ditawari dengan kayu gaharu.

Sumber : LINK dan LINK
Read more...

Honai

HONAI - RUMAH TRADISIONAL PAPUA


Honai adalah rumah khas Papua. Rumah Honai terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Honai sengaja dibangun sempit atau kecil dan tidak berjendela yang bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua. Honai biasanya dibangun setinggi 2,5 meter dan pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Rumah Honai terbagi dalam tiga tipe, yaitu untuk kaum laki-laki (disebut Honai), wanita (disebut Ebei), dan kandang babi (disebut Wamai).

Rumah adat masyarakat wamena yaitu berbentuk lingkaran dengan penutup alang alang yang cukup tebal (> 10 cm). Rumah ini disebut "HONAI", Honai ini sering dijadikan simbol rumah adat khas Papua. Jika anda masuk kedalam Honai ini maka didalam cukup hangat dan gelap karena tidak terdapat jendela dan hanya ada satu pintu. Dimalam hari mereka menggunakan penerangan kayu bakar di dalam honai dengan menggali tanah didalammnya sebagai tungku, selain menerangi bara api juga bermanfaat untuk menghangatkan tubuh. Jika tidur mereka tidak mengunakan dipan atau kasur, mereka beralas rerumputan kering yang dibawa dari kebun atau ladang. Umumnya mereka mengganti jika sudah terlalu lama karena banyak terdapat kutu babi.


Dalam satu komplek perumahan dihuni satu keluarga dan terdapat beberapa Honai. Jumlah Honai menandakan jumlah istri yang ada, di sini banyak dijumpai laki-laki lebih dari satu istri terutama kepala suku atau Ondoafi.

SUMBER
ɐnʇɐʞɐʞ² is offline  
Read more...

Budaya Epen, Generasi Epen






Epen ka !!! Anda pernah mendengar kata-kata ini? Atau anda adalah orang yang juga menggunakan kata-kata ini dalam kehidupan sehari-hari?

Sepenggal kalimat di atas yang terdiri dari dua kata ‘epen’ dan ka bukanlah kata baru dalam bahasa pergaulan di hampir seluruh lapisan Masyarakat Papua saat ini. Kalimat yang berasal dari Bahasa Melayu Papua yaitu Bahasa Indonesia yang mengalami perubahan bunyi berdasarkan dialek Orang Papua. Kalimat yang sederhana ini digunakan bukan hanya di kalangan anak-anak dan remaja saja tetapi pemuda-pemudi hingga orang tua yang hidup di daerah perkotaan dan di beberapa daerah suburbanpun banyak yang menggunakan kata-kata ini dalam kehidupan sehari-hari mereka.

E… Penting ka?
Kata-kata di atas inilah yang membuat terbentuknya frase kata baru dalam Bahasa Pergaulan Papua: ‘epen’. Kata ini diakhiri dengan tanda tanya. Kata ini bila dimaknai secara sederhana maka dapat berarti ‘pentingkah hal yang anda bicarakan ini, mungkin memang penting bagi anda tapi tidak penting untuk saya karena saya tidak peduli dengan hal yang sedang anda bicarakan.’

Kata ini biasanya digunakan untuk menjawab pembicaraan atau membalas kata-kata yang diucapkan oleh seseorang. Apabila mendengar seseorang membicarakan suatu hal yang serius tetapi kemudian dibalas oleh lawan bicaranya dengan kata ‘epen’. Orang pertama pasti akan menjadi marah, tersinggung atau malah jadi malas untuk melanjutkan lagi pembicaraan yang sebenarnya serius bahkan mungkin sebenarnya penting. Lebih parah lagi bila kata ‘epen’ diucapkan pada orang yang memiliki karakter serius, kata ‘epen’ justru menjadi akar masalah baru.

Seorang pejabat penting di Manokwari juga menggunakan kata ‘epen’ dalam pertemuan resmi dengan warga masyarakat beberapa waktu lalu dimana saat itu seorang anggota masyarakat dari salah satu distrik di Manokwari meminta pada pejabat ini agar ada pengadaan fasilitas alat penyaring air bersih di tempat kediaman mereka tetapi dibalas dengan kata ‘epen’ oleh pejabat tersebut. Hal ini membuktikan bahwa betapa populernya kata ‘epen’ hingga sampai juga ke tingkat para birokrat yang ada di Papua saat ini.

‘Epen’ dapat dimaknai berbeda oleh masing-masing orang yang menggunakan maupun mendengarnya dari orang lain. Tergantung suasana hati seseorang saat mendengar kata itu. ‘Epen’ dapat menjadi mop (cerita lucu versi Orang Papua) yang membuat orang banyak tertawa terpingkal-pingkal tapi ‘epen’ juga dapat membuat orang atau lawan bicara tersinggung atau bahkan kata ‘epen’ dikeluarkan oleh seseorang karena sedang dalam keadaan marah atau bahkan sebaliknya ‘epen’ menjadi sumber masalah. ‘Epen’ kemudian menjadi kata yang sarat makna.

Akhir-akhir ini kata ‘epen’ banyak juga digunakan oleh anak-anak. Hal ini mengundang keprihatinan dikalangan pendidik. Anak-anak sekarang cenderung untuk menjadi anak yang bandel karena kata ‘epen’. Bila kata ‘epen’ digunakan diantara anak-anak sesama umur saja mungkin masih dapat dimaklumi tetapi ketika ‘epen’ juga dilontarkan pada orang tua, ini mempengaruhi sikap mereka yang juga tidak menghargai orang tuanya sendiri.

Beberapa tahun yang lalu, sangat jarang seorang anak membantah perintah orang tuanya. Kenakalan anak-anak pada satu dekade lalu sangat berbeda dengan kenakalan anak-anak saat ini. Saat ini dengan menggunakan kata ‘epen’, seorang anak dapat mengekspresikan ketidakpedulian dan rasa tidak menghargai orang tuanya. Kesalahan ini tidak sepenuhnya dapat dilimpahkan pada si anak. Bila ternyata orang tuanya sendiri menggunakan kata ‘epen’ untuk menjawab pernyataan ataupun pertanyaan anaknya tanpa memahami sebab dan akibat dari ucapan itu akan ditiru oleh si anak tersebut maka akan lahir Generasi Papua Baru yang tidak lagi peduli dengan segala macam persoalan yang terjadi di sekitarnya hanya dengan mengucapkan kata ‘epen’.

Budaya ‘epen’ yang secara alamiah kemudian menjadi budaya ‘tidak peduli’ ini akan membuat banyak persoalan-persoalan sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Dengan demikian muncul juga Generasi ‘Epen” yang mana tingkat kesadaran dan kepedulian generasi ini terhadap kondisi sosialpun akan semakin berkurang dalam diri si anak pada generasi sekarang.

Lama-kelamaan, kata ‘epen’ jadi lebih cenderung bermakna negatif. Degradasi moral dapat terjadi di tengah-tengah masyarakat bila terus dibiarkan. Nilai-nilai luhur yang mengajarkan penghargaan terhadap sesama manusia terutama pada orang yang lebih tua menjadi luntur hanya karena kata ‘epen’ yang kemudian dapat melahirkan budaya baru yaitu budaya ‘epen’..
Generasi ‘epen’ akan menyaksikan kekayaan alam Papua dikeruk habis-habisan, semua asset diambil alih serta semua jabatan birokrasi pemerintahan di Papua di waktu-waktu yang akan datang dikuasai oleh Orang nonPapua, generasi ini hanya akan jadi penonton karena hanya ada kata ‘epen’ yang dipikirkan atau diucapkan saat melihat kondisi tersebut.

Bukti konkrit lain daripergeseran nilai-nilai ini juga dapat kita lihat saat orang sudah tidak ada lagi orang yang sadar dan peduli dengan Budaya ‘epen’ yang sedang berkembang saat ini. Bila Budaya ‘epen’ terus berlangsung dan mempengaruhi sikap dan pola hidup bukan hanya mempengaruhi masyarakat Papua tapi juga di kalangan birokrat maka tidak menutup kemungkinan ketidakpedulian ini terjadi saat seseorang menjadi pemimpin tapi ketika ia ditanyai soal kondisi rakyat yang mengalami kesulitan, bila jawaban yang keluar dari mulutnya adalah ‘epen ka?’. Sungguh sebuah jawaban yang memilukan hati bagi rakyat. Contoh lain, ketika seorang birokrat ditanyai tentang bagaimana dengan Otonomi Khusus di Papua? Kata ‘epen’ kembali meluncur dari mulut sang birokrat maka tidak ada lagi yang tersisa dalam tatanan hidup Rakyat Papua.

Terbukanya semua jalur komunikasi di Seluruh Nusantara saat ini akibat arus globalisasi mengakibatkan pasokan informasi yang diterima masyarakat juga beragam tanpa melalui proses penyaringan yang baik oleh pihak-pihak yang terkait. Sekarang televisi bukan lagi benda elektronik yang mahal seperti dulu sehingga masyarakat dapat langsung menyaksikan sinetron yang ditayangkan setiap hari. Kccenderungan sinetron yang Jakarta center dengan logat Betawi yang kental membuat bukan cuma komunikasi di tengah masyarakat Indonesia saja yang rusak tapi Bahasa Indonesia seolah-olah tidak lagi penting dan bukan lagi menjadi bahasa resmi.

Kata ‘epen’ sendiri cenderung memiliki makna yang hampir sama dengan istilah Emang Gue Pikirin (EGP) yang sangat khas Betawi yang populer di kalangan warga ibu kota negara itu. Kata-kata yang menunjukkan kecuekkan ini seakan menembus batas ruang dan waktu dengan kacanggihan teknologi.

Generasi Indonesiapun mengalami degradasi ini. Apalagi kata-kata EGP sering diucapkan artis-artis sinetron yang setiap malam ditonton hampir oleh sebagian besar Penduduk Indonesia tentu saja akan mempengaruhi pola pikir sekaligus tingkah laku Masyarakat Indonesia yang cenderung ke arah negatif.

Demikian juga dengan penayangan sinetron-sinetron yang tidak mendidik sesegera mungkin harus disensor bahkan bila perlu dicekal. Apalagi sinetron yang menggunakan pemeran anak-anak yang berkarakter jahat. Anak nakal memang ada tetapi anak yang jahat itu tidak ada kecuali karakter jahat pada si anak dibentuk oleh tangan-tangan jahat. Belum lagi ditambah dengan infotaiment yang menyiarkan terus kasus-kasus dalam kehidupan para artis yang banyak keluar dari nilai-nilai susila dan tidak menjadi contoh baik bagi masyarakat tapi disiarkan secara luas dan berulang-ulang. Masyarakat jadi cenderung ikut-ikutan dengan trend ini.

Karakter sebuah bangsa dibentuk oleh tradisi dan budaya yang secara terus-menerus mengalami dialektika di dalam masyarakat seiring dengan berjalannya waktu. Kekuatan sebuah bangsa terletak pada kuatnya rasa bangga pada setiap warga negara tersebut terhadap kewarganegaraannya.

Bangsa Papua yang secara khusus telah shock culture karena lompatan besar dalam sejarah perkembangan masyarakat yang tidak sempurna mengalami guncangan luar biasa yang berdampak pada sikap dan pola hidup sehari-hari. Kaget terhadap dunia luar dan trend akibat arus modernisasi. Tidak banyak Generasi Muda Papua saat ini yang bangga terhadap budayanya. Mereka cenderung menyukai musik dari luar seperti reggae yang dipopulerkan oleh Bob Marley. Memang bagi Orang Jamaica reggae adalah musik pembebasan tetapi Generasi Muda Papua melihat itu hanya dari sisi kesamaan ras yaitu sama-sama berkulit hitam. Image Global yang dibangun di tengah masyarakat global saat ini membuat Orang Papua mengalami krisis identitas diri sekaligus krisis budaya. Dampak dari semua ini lebih banyak ke arah negatif yang mana membuat Orang Papua tidak percaya diri.

Bangsa Indonesia dengan berbagai ragam suku bangsa dan budaya sebenarnya masih dalam proses menuju sebuah nation. Bangsa ini lahir dengan dengan berbagai karakter yang berbeda sehingga negara harus mampu menjaga nilai-nilai budaya sebagai kekayaan bangsa yang tiada taranya. Negara juga bertanggung jawab atas kelestarian berbagai budaya yang berbeda ini karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budaya bangsanya sendiri.

Mari kita coba bersama-sama untuk tidak lagi menggunakan kata ‘epen’ dalam kehidupan sehari-hari untuk dapat membantu proses mengembalikan moral Generasi Penerus Papua.. Semoga.
Read more...

Telaga Sarawandori

Telaga Sarawandori, bagaikan mutiara indah yang masih tersembunyi di Papua !!!




Telaga Sarawandori, bagaikan mutiara indah yang masih tersembunyi di Papua.


Pantai biru bercampur hijau


Keasriannya masih benar-benar asli, cantik tanpa dandanan prasarana apapun.


Lautan nan biru disambut dengan air tawar dari telaga.


Telaga Sarawandori merupakan perpaduan air laut dan air tawar.


Warna airnya kehijauan sangat bening


Wow perjalanan yang sungguh cantik...


Bagaikan di telaga dongeng ........


Rimbunnya hutan ditepi telaga ..... sejuk, jernih, asri.


Anak-anak di Sarawandori ....... bersahabat walau malu-malu..


Kejernihan airnya ........ mampu mengungkap semua yang ada di dalam telaga.


Bintang lautpun dengan mudah untuk dipungut.


Telaga Sarawandori, mutiara indah yang terletak 30 km dari kota Serui, Kabupaten Japen Waropen, Papua.


Indonesia memang luar biasa kekayaan alamnya. Anda tidak akan pernah membayangkan keindahan seperti apa yang dapat Anda nikmati bila menikmati telaga yang begitu bening dan mempesona seperti Telaga Sarawandori. Telaga berwarna biru dengan panorama yang sangat indah ini terletak di desa Sarawandori, sekitar 5 km dari kota Serui, ibukota kabupaten Yapen, Papua. Di sini dibangun sebuah objek wisata yang ramai dikunjungi oleh masyarakat kota Serui pada hari Minggu dan hari-hari libur lainnya. Selain sebagai objek wisata juga tersedia rumah-rumah untuk tempat istirahat melepas lelah sambil bermalam. Obyek wisata ini dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Yapen Waropen di Serui. Jauh dari keramaian dan masih amat alami, akan membuat liburan Anda tidak akan terlupakan.

Telaga Sarawandori memang menyimpan potensi wisata bahari yang menarik wisatawan, karena telaga ini benar-benar masih "perawan" bening dan berwarna biru. Pemerintah Kabupaten Yapen membangun pondok-pondok istirahat dimana para pengusaha membuka rumah makan, restoran, kafetaria hingga karaoke.

Telaga yang diapit dua tanjung di bagian Barat Kota Serui itu pernah menjadi tempat persembunyian kapal perang tentara sekutu pimpinan AS ketika perang dunia ke-II melawan Jepang dimana pasukan sekutu dibawah komando McArthur membumi-hanguskan Kota Hiroshima dan Nagasaki.
Read more...

Puncak Jayawijaya Dulunya Dasar Laut

Mistery

Puncak Jayawijaya Dulunya Dasar Laut




Bagi pendaki gunung, mendaki jajaran Pegunungan Jayawijaya adalah sebuah impian. Betapa tidak, pada salah satu puncak pegunungan itu terdapat titik tertinggi di Indonesia, yakni Carstensz Pyramide dengan ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Jangan heran jika pendaki gunung papan atas kelas dunia selalu berlomba untuk mendaki salah satu titik yang masuk dalam deretan tujuh puncak benua tersebut. Apalagi dengan keberadaan salju abadi yang selalu menyelimuti puncak itu, membuat hasrat kian menggebu untuk menggapainya.

Tetapi, siapa yang menyangka jika puncak bersalju itu dahulunya adalah bagian dari dasar lautan yang sangat dalam!.Pulau Papua mulai terbentuk pada 60 juta tahun yang lalu. Saat itu, pulau ini masih berada di dasar laut yang terbentuk oleh bebatuan sedimen. Pengendapan intensif yang berasal dari benua Australia dalam kurun waktu yang panjang menghasilkan daratan baru yang kini bernama Papua. Saat itu, Papua masih menyatu dengan Australia.

Keberadaan Pulau Papua saat ini, tidak bisa dilepaskan dari teori geologi yang menyebutkan bahwa dunia ini hanya memiliki sebuah benua yang bernama Pangea pada 250 juta tahun lalu. Pada kurun waktu 240 juta hingga 65 juta tahun yang lalu, benua Pangea pecah menjadi dua dengan membentuk benua Laurasia dan benua Eurasia, yang menjadi cikal bakal pembentukan benua dan pegunungan yang saat ini ada di seluruh dunia.
Pada kurun waktu itu juga, benua Eurasia yang berada di belahan bumi bagian selatan pecah kembali menjadi benua Gonwana yang di kemudian hari akan menjadi daratan Amerika Selatan, Afrika, India, dan Australia.


Saat itu, benua Australia dengan benua-benua yang lain dipisahkan oleh lautan. Di lautan bagian utara itulah batuan Pulau Papua mengendap yang menjadi bagian dari Australia akan muncul di kemudian hari. Pengendapan yang sangat intensif dari benua kanguru ini, akhirnya mengangkat sedimen batu ke atas permukaan laut. Tentu saja proses pengangkatan ini berdasarkan skala waktu geologi dengan kecepatan 2,5 km per juta tahun.
Proses ini masih ditambah oleh terjadinya tumbukan lempeng antara lempeng Indo-Pasifik dengan Indo-Australia di dasar laut. Tumbukan lempeng ini menghasilkan busur pulau, yang juga menjadi cikal bakal dari pulau dan pegunungan di Papua.

Akhirnya proses pengangkatan yang terus-menerus akibat sedimentasi dan disertai kejadian tektonik bawah laut, dalam kurun waktu jutaan tahun menghasilkan pegunungan tinggi seperti yang bisa dilihat saat ini.
Bukti bahwa Pulau Papua beserta pegunungan tingginya pernah menjadi bagian dari dasar laut yang dalam dapat dilihat dari fosil yang tertinggal di bebatuan Jayawijaya.

Meski berada di ketinggian 4.800 mdpl, fosil kerang laut, misalnya, dapat dilihat pada batuan gamping dan klastik yang terdapat di Pegunungan Jayawijaya. Karena itu, selain menjadi surganya para pendaki, Pegunungan Jayawijaya juga menjadi surganya para peneliti geologi dunia.
Sementara terpisahnya daratan Australia dengan Papua oleh lautan berawal dari berakhirnya zaman es yang terjadi pada 15.000 tahun yang lalu. Mencairnya es menjadi lautan pada akhirnya memisahkan daratan Papua dengan benua Australia.


Masih banyak rahasia bebatuan Jayawijaya yang belum tergali. Apalagi, umur Pulau Papua ini masih dikategorikan muda sehingga proses pengangkatan pulau masih terus berlangsung hingga saat ini. Ini juga alasan dari penyebutan Papua New Guinea bagi Pulau Papua, yang artinya adalah sebuah pulau yang masih baru.

Sementara keberadaan salju yang berada di beberapa puncak Jayawijaya, diyakininya akan berangsur hilang seperti yang dialami Gunung Kilimanjaro di Tanzania. Hilangnya satu-satunya salju yang dimiliki oleh pegunungan di Indonesia itu disebabkan oleh perubahan iklim secara global yang terjadi di daerah tropis.

Sumber : LINK

Read more...

Kanguru

KANGGURU


Kanguru atau kangguru adalah hewan mamalia yang memiliki kantung (marsupialia). Hewan ini termasuk hewan khas Australia dan juga ada di sebagian wilayah Papua. Kata kanguru diambil dari bahasa Aborigin gangguru.

Ada tiga spesies kanguru:

* Kanguru Merah

Kanguru Merah adalah hewan marsupial terbesar yang masih hidup. Apabila berdiri tingginya dapat mencapai lebih dari 2 meter dan bobotnya mencapai 90 kg. Kanguru jenis ini biasanya bergerak dalam kelompok besar. Mereka tidur di kala siang yang hawanya paling panas. Apabila tidak ada air, mereka akan mencari kelembaban dari tumbuhan hijau. Mereka juga hanya akan berkembangbiak apabila ada hujan dan tumbuh tanaman baru.

* Kanguru Abu-abu Timur

Kanguru Abu-abu Timur dapat ditemukan di daerah subur Australia bagian timur.

* Kanguru Abu-abu Barat

Kanguru Abu-abu Barat dapat ditemukan di Australia bagian barat, Australia bagian selatan yang dekat dengan pantai dan basin Sungai Darling.Kanguru Abu-abu sangat banyak jumlahnya. Mereka hidup di hutan-hutan eukaliptus yang terbuka dan di daerah berumput. Mereka memakan rumput.

Kanguru Pohon. Kanguru jenis ini hidupnya di atas pohon. Pada siang hari mereka tidur di dahan-dahan pohon. Pada malam hari mereka makan daun dan buah. Kanguru Pohon bisa ditemukan di hutan hujan tropis yang padat di Australia bagian timur laut dan Papua. Beberapa kanguru Pohon adalah hewan yang dilindungi. Kebanyakan dari mereka hampir punah disebabkan oleh perusakan lingkungan.



Kanguru mempunyai dua kaki belakang yang kuat, telapak kakinya yang besar didesain untuk meloncat. Kanguru biasa melompat dengan kecepatan 20-25 km/jam. Tapi mereka bisa melompat hingga kecepatannya menjadi 70 km/jam. Harapan hidup kanguru sekitar 9-18 tahun. Walau terkadang ada kanguru yang bisa bertahan hidup hingga 28 tahun.

Sumber : Wikipedia
Read more...

Noken

NOKEN


Dalam bahasa bahasa etnis Papua sekitar 250 suku bangsa menyebut noken menurut pemahaman dan pengertian mereka masing masing sesuai dengan alam serta lingkungan hidup mereka. Nama kantong atau noken boleh berbeda sesuia dengan suku masing-masing tapi pengunaannya dan manfaatnya pasti sama yaitu untuk menampung atau menyimpan hasil bumi seperti petatas, ubi dan keladi.

Bahkan ada beberapa suku di Papua yang menggunakan noken untuk menggendong bayi mereka dan juga anak-anak babi. Sebut saja misalnya masyarakat di kepulauan khusunya di Biak Numfor, noken dalam wos byak disebut Inokson. Sedangkan masyarakat Nabire khususnya mereka yang tinggal di Harlens mencakup Moor, Mambor, Hariti dan Ahe yang menyebut noken dalam bahasa Moor yaitu ”Aramuto”. Bagi orang Marind di Kabupaten mengenal noken dengan sebutan “Mahyan”. Lain halnya dengan orang Dani di Lembah Balien yang menamainya “Su”.

Karena sekarang ini noken sudah bukan lagi milik suku suku di Papua tetapi milik semua orang. Hingga tak heran kalau ada merek noken dari luar Papua dengan kualitas yang bagus dan kuat. Sehingga lama kelamaan nama noken pun seakan akan pudar.

Noken juga memiliki konsep biologi, geografi, teknologi, etnografi hingga filosofi yang terkait satu dengan lainnya. Biologi adalah serat yang diambil dari pohon untuk membuat noken dan juga daun tikar; Geografi mempunyai kekayaan Alam yang bisa dijadikan apa saja; Etnogarafi adalah ilmu yang mengatur suku bangsa, focus pada suatu benda atau kegiatan tentang kebudayaan; Filosifinya, ditransferkan kepada anak-anak muda supaya mempertahakan budaya nenek moyang.

Sumber : Link
Read more...

Situs Gua Jepang Binsari di Biak

Situs Gua Jepang Binsari di Biak



Obyek wisata ini bernama lengkap Situs Gua Jepang Binsari,merupakan bukti sejarah terjadinya Perang Dunia II yang terletak di desa Sumberker Kabupaten Biak Numfor dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat sekitar 3 km sebelah barat kota Biak.

O,ya selain itu masyarakat sekitar Gua Jepang ini juga menyebut gua jepang sebagai "Abiyau Binzar" yang berarti wanita tua karena menurut legenda, Gua Jepang ini pernah ditinggali oleh seorang wanita tua sebelum digunakan oleh tentara Jepang.

Berbeda dengan gua-gua Jepang pada umumnya, gua jepang yang ada di Biak ini merupakan gua alam yaitu gua yang terbentuk secara alami oleh proses Hidrologi Karst ( pembentukan lubang oleh aliran air dalam waktu yang sangat lama ). Gua yang memiliki panjang 3 km ini ditemukan oleh tentara Jepang pada tahun 1943. Di mana pintu gerbangnya sebagai tempat masuk tentara Jepang ini terletak di Pantai Parray Desa Parray berbeda dengan pintu masuk Gua Jepang sekarang yang berada didesa Sumberker. Gua alam ini kemudian difungsikan sebagai tempat perlindungan, pertahanan maupun gudang penyimpanan.


Pada bagian atas Gua Jepang ini terdapat lubang yang cukup besar sehingga membuat keadaan di dalam gua menjadi terang benderang oleh sinar matahari, konon ceritanya lubang tersebut akibat serangan udara pesawat US. Yup.... tepatnya pada tanggal 7 Juli 1944, pasukan US di bawah pimpinan Mc Arthur menyerang gua Jepang yang menjadi tempat persembunyian tentara Jepang. Selain menjatuhi bom, pasukan Amerika ini juga menjatuhkan berdrum-drum bahan bakar yang kemudian ditembaki dari udara. Hal tersebut membuat gua dipenuhi dengan api dan terjadi ledakan dahsyat berkali - kali. Saking dahsyatnya kebakaran tersebut berlangsung sampai berbulan-bulan. Dalam serangan tersebut 3.000 tentara Jepang terkubur dan tewas seketika. Dan untuk mencapai pintu masuk gua, kita harus menapaki anak tangga yang lumayan banyak banget..lumayan berkeringat dah..^_^

O,ya di kawasan obyek wisata Gua Jepang ini juga terdapat Museum yang berisi benda - benda bersejarah, peralatan dan perlengkapan perang tentara Jepang yang konon ditemukan di dalam Gua Jepang dan sekitarnya seperti peneng ( kalung dengan liontin yang terbuat dari logam biasanya berfungsi sebagai tanda pengenal ), helm, granat, pistol, dan masih banyak lagi deh. Situs Gua Jepang saat ini dikelola oleh Yayasan Binsari.

Sumber : Wikimu
Read more...

Khasiat Buah Merah

Khasiat Buah Merah



Mengapa buah merah akhir-akhir ini menjadi sangat terkenal? Tentu tidak lain karena buah merah merah ternyata mempunyai kemampuan untuk membantu mengobati banyak penyakit.

Jenis-jenis penyakit yang dapat diobati buah merah antara lain:

1. AIDS

Walaupun para ahli telah bertahun-tahun mencoba membuat obat untuk menyembuhkan AIDS tetap saja obatnya masih belum ditemukan. Mungkin Anda sendiri merasa tidak percaya mengenai khasiat buah merah yang satu ini. Namun khasiat buah merah untuk menyembuhkan AIDS sudah terbukti. Salah satu seorang yang terbebas dari cengkeraman kematian akibat AIDS adalah Agustina Sawery.

Agustina Sawery sempat menurun berat tubuhnya dari 50 kg menjadi 27 kg. Ia mengalami infeksi anus, gangguan fungsi hati, mulut bercendawan dan infeksi paru-paru. Nampaknya Agustina tinggal menunggu jam kematiannya. Maka dia datang kepada Drs I Made Budi MS.Saat itu Made sudah dikenal luas di Papua lantaran kerap mengobati penyakit seperti kanker dengan ekstrak buah merah. Kemudian Agustina diberikan ekstrak buah merah yang dikonsumsi tiga kali sehari.

Sejak mengkonsumsi buah merah keadaannya mulai membaik. Berat badannya yang sempat turun sampai menjadi 27 kg mulai meningkat menjadi 46 kg. Kulitnya yang semua busik menjadi mulus kembali. Rambutnya yang sempat rontok mulai tumbuh lagi. Agustina menjadi jauh lebih bugar.

Dikabarkan bahwa kemampuan buah merah menyembuhkan AIDS adalah karena buah merah mengandung tokoferol dan betakaroten yang sangat tinggi. Kedua kandungan ini berfungsi sebagai antioksidan dan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Tokoferol dan betakaroten akhirnya berkombinasi untuk memecah asam amino yang dibutuhkan oleh virus penyebab AIDS, HIV, sehingga virus tersebut tak dapat melangsungkan hidupnya.

2. Kanker dan Tumor

Khasiat lain buah merah adalah mengobati kanker dan tumor. Kanker dan tumor tak diragukan lagi merupakan salah satu penyebab kematian terbesar. Disebabkan oleh apa kanker dan tumor itu? Penyakit ini disebabkan oleh ketidakteraturan hormon dalam tubuh yang menyebabkan tumbuhnya daging di jaringan tubuh normal.

Buah merah dapat mengobati kanker karena kandungan tokoferolnya sangat tinggi, yaitu mencapai 11.000 ppm dan betakarotennya mencapai 7.000 ppm. Kedua senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta mencegah pembiakan sel-sel kanker.

3. Stroke dan Darah Tinggi

Stroke disebabkan oleh darah yang membeku dan penyempitan pembuluh darah. Salah satu penyebab penyakit ini adalah darah tinggi. Tekanan darah tinggi menyebabkan penggumpalan darah sehingga pembuluh darah menyempit, akibatnya supplai darah berkurang. Lebih dari itu, pembuluh darah bisa pecah. Penyakit ini, bila tidak menyebabkan kematian, dapat menyebabkan kelumpuhan anggota badan.

Darah tinggi sendiri disebabkan oleh kerja jantung yang memompa darah terlalu cepat. Hal ini salah satunya disebabkan oleh karena darah kekurangan oksigen atau oksigen yang terlalu kental.

Buah merah mengandung tokoferol yang dapat mengencerkan darah dan memperlancar sirkulasi darah sehingga kandungan oksigen dalam darah menjadi normal.


4. Asam Urat

Asam urat dsebabkan karena terganggunya fungsi lever sehingga lever memproduksi asam urat secara berlebihan. Asam urat akhirnya tertampung di dalam ginjal menjadi batu dan dibawa ke ujung-ujung jari tangan dan kaki serta mengumpul di sana.

Tokoferol dalam buah merah mengencerkan darah dan memperbaiki sistem kerja lever. Sistem kerja lever, setelah diperbaiki, memproduksi kadar asam urat yang normal.

5. Diabetes Mellitus (Kencing Manis)

Penyakit ini disebabkan karena kelenjar pankreas tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah yang memadai. Akibatnya, kandungan gula dalam darah meningkat.

Kandungan tokoferol dalam buah merah memperbaiki kerja pankreas sehingga fungsi pankreas menjadi normal kembali.

6. Osteoporosis

Disebabkan pengeroposan tulang, osteoporosis disebabkan oleh kekurangan kalsium. Penyakit ini umumnya menyerang mereka yang sudah berusia senja.

Buah merah kaya akan kalsium sehingga dapat mencegah dan mengobati osteoporosis. Dalam 100 gram buah merah segar terkandung 54.000 miligram kalsium.

7. Gangguan Mata

Kandungan betakaroten yang tinggi dalam buah merah dapat mengatasi banyak jenis penyakit mata yang disebabkan kekurangan vitamin A. Betakaroten diserap oleh tubuh dan diolah menjadi vitamin A.

8. Meningkatkan Kecerdasan

Kandungan omega 3 dan omega 6 dalam buah merah dapat merangsang daya kerja otak dan meningkatkan kecerdasan. Oleh karena itu buah merah cocok untuk dikonsumsi oleh anak-anak.

9. Meningkatkan Gairah dan Kesuburan

Buah merah, menurut mereka yang mengkonsumsinya, dapat membantu meningkatkan gairah seksual kaum pria. Efek pengobatan bervariasi, ada yang bereaksi setelah 15 menit meminumnya, ada juga yang setelah satu atau dua jam meminumnya.

Vitamin E dalam buah merah membantu meningkatkan produksi sperma. Selain itu, buah merah mengandung energi tinggi, yaitu 360 kalori.

Selain khasiat-khasiat yang telah disebutkan di atas, buah merah dikabarkan dapat juga mengobati penyakit lambung, wasir, gangguan pada paru-paru dan sebagainya.


Bagaimana proses kerja sari buah merah dalam tubuh?


Proses kerja buah merah yaitu, betakaroten yang tinggi bermanfat sebagai antioksidan yang mampu mem-blow-up perkembangan kanker atau menonaktifkan pertumbuhan kanker melalui proses metabolisme. Berbagai jurnal penelitian telah membuktikan bahwa betakaroten terbukti bermanfaat sebagai obat kanker. Drs. I Made Budi Msc. sudah menguji ke berbagai penyakit degeneratif lainnya seperti asam urat, kolesterol, jantung, dan darah tinggi. Semua penyakit tersebut tidak sukar dibasmi dengan sari buah merah. Dengan kata lain, betakaroten dan tokoferol ibarat pemadam kebakaran.

Betakaroten berfungsi memperlambat berlangsungnya flek pada arteri sehingga aliran darah ke jantung dan ke otak menjadi lancar tanpa hambatan. Interaksinya dengan protein meningkatkan produksi antibodi. Betakaroten meningkatkan jumlah sel-sel pembunuh alami dan memperbanyak aktifitas sel-sel T helpers dan limfosit. Bertambahnya sel-sel pembunuh alami menekan radikal bebas, senyawa karsinogen dan kehadiran sel kanker. Jika antioksidan tersedia setiap saat dalam darah maka sel-sel tubuh terlindungi dari kerusakan akibat radikal bebas. Peran buah merah sebagai antikarsinogen semakin lengkap dengan kehadiran tokoferol. Senyawa ini berperan dalam memperbaiki sistem kekebalan tubuh dan mengurangi mobiditas dan mortalitas sel jaringan. Kolesterol dalam darah pun dinetralisir. Buah merah juga mengandung omega 3 dan omega 9 dalam dosis tinggi. Sebagai asam lemak tak jenuh, omega 3 dan omega 9 gampang dicerna dan diserap sehingga memperlancar proses metabolisme.

Sari buah merah meluruhkan LDl (kolesterol yang menyebabkan penyumbatan di pembuluh darah dan meningkatkan HDL (kolesterol yang memperlancar peredaran darah) sehingga terjadi keseimbangan kolesterol dalam darah. Lancarnya proses metabolisme sangat membantu proses penyembuhan penyakit. Sebab, tubuh mendapat asupan protein yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh. Bahkan, dengan membaiknya proses metabolisme akan sangat membantu hati meregenerasi sel-sel hati yang rusak akibat hepatitis.


Sumber : Link
Read more...

Gubernur Papua Dari Masa Ke Masa

Gubernur Papua Pertama
Elias Jan Bonai

Periode : 1963 - 1964



Info:
  • Tempat/Tgl Lahir : Serui, 24 Agustus 1924
  • Agama : Kristen Protestan
  • Pendidikan :
  1. Volksschoo (Tamat 1936)
  2. Osiba( tamat 1957)
  3. Pendidikan Persiapan bertuursacademi tahun 1961-1962. Putus karena Trikora.
Gubernur Papua Kedua
Frans Kaisiepo

Periode : 1964 - 1973



Info:
Frans Kaisiepo adalah pahlawan nasional Indonesia yang lahir di Wardo, Biak, 10 Oktober 1921 dan wafat 10 April 1979.

Frans terlibat dalam konferensi Malino (1946) yang membicarakan mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua. Beliau mengusulkan nama Irian, yang berasal dari bahasa Biak yang berarti beruap.

Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jayapura.

Gubernur Papua Ketiga

Acub Zaenal

Periode : 1973 - 1975


Info:


Gubernur Papua Ke Empat
Soetran

Periode : 1975 - 1981
 
Info:


Gubernur Papua Ke Lima
Drs. Busiri Suryowinoto

Periode : 1982 - 1983


Info:

Gubernur Papua Ke Enam
Izaac Hindom

Periode : 1983 - 1988


Info:


Gubernur Papua Ke Tujuh & Kesebelas (Sekarang)
Barnabas Suebu, SH

Periode : 1988 - 1993



Info:
  • Tempat/Tgl Lahir : Sentani, 29 April 1946
  • Alamat : Jl. Beringin B/01 Perumnas II Waena RT/ RW 002/05 Kelurahan Yabansai Abepura,
  • Kota Jayapura - Papua
  • No. Telp. : a. Rumah : (0967) 573284
  • b. Kantor : (021) 7388n5347
  • c. HP : 0815 1832303
  • Jenis Kelamin : Laki-laki
  • Agama : Kristen Protestan
  • Status Pernikahan : Menikah
  • Nama Istri : Maryam S. Tokoro
  • Jumlah Anak : 6 (enam) orang
  • Nama Ayah : Bonifasius Suebu
  • Nama Ibu : Salomi Monim

Riwayat Pendidikan :
  1. Sarjana Muda Hukum Universitas Cendrawasih, tahun 1976 (ijazah)
  2. Sarjana Hukum, Universitas Cendrawasih, tahun 1988 (ijazah)
  3. LEMHANAS, Kursus Reguler Angkatan XVII, tahun 1984 (ijazah)

Pengalaman Organisasi :
  1. Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Cendrawasih 1972-1975
  2. Ketua DPD KNPI Provinsi Irian Jaya, 1974-1975
  3. Ketua Umum KADIN Provinsi Dati I Irian Jaya, 1981-1987
  4. Ketua DPD GOLKAR Provinsi Dati I Irian Jaya, 1983-1988
  5. Ketua Dewan Pertimbangan GOLKAR Provinsi Dati I Irian Jaya, 1986-1993
  6. Ketua Umum KONI Provinsi Irian Jaya, 1983-1988
  7. Anggota Dewan Pembina KADIN Indonesia, 1994-1999
Pengalaman Pekerjaan :
  1. Pengamat cuaca pada Badan Meteorologi dan Geofisika Provinsi Irian Jaya 1962-1970
  2. Anggota DPRD Provinsi Dati I Irian Jaya, 1977-1982
  3. Ketua DPRD Provinsi Dati I Irian Jaya, 1982-1987
  4. Ketua DPRD Provinsi Dati I Irian Jaya, 1987-1988
  5. Gubernur Kepala Daerah Provinsi Dati I Irian Jaya, 1988-1993
  6. Anggota Tim Penasehat Menristek/Ketua BPPT/Ketua BPIS, Selaku Ketua Harian Dewan Pengembangan Kawasan Timur
  7. Anggota Badan Pertimbangan Pendidian Nasional (BPPN), 1990-1998
  8. Anggota Majelis Pertimbangan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), 1994-1999
  9. Anggota MPR, 1997-2002
  10. Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Mexico , Honduras dan Panama 1999-2002
  11. Anggota Dewan Penyantun dari United Board for Christian Higher Education in Asia , 2004- Sekarang


Gubernur Papua Ke Delapan
Drs. J. Pattipi

Periode : 1988 - 1993


Info:


Gubernur Papua Ke Sembilan
Freddy Numberi

Periode : 1998 - 1999


Info:



Gubernur Papua Ke Sepuluh
DR.Drs J.P.Solossa, Msi

Periode : 2000 - 2005


Info:
  • Nama Lengkap : Jacobus Perviddya Solossa
  • Tempat/Tgl Lahir : Mefkajim Ayamaru / Sorong,8 Mei 1948
  • Jenis Kelamin : Laki-laki
  • Agama : Kristen Protestan
  • Alamat Rumah : Jl. Kotaraja Dalam Kelurahan VIM Distrik Jayapura Distrik Jayapura Selatan
  • Status Pernikahan : Menikah
  • Nama Istri : E.J/ Mauri
  • Nama Anak : 1. Ekaterina M.S. Solossa
    2. Aquino L.R. Solossa 

(Sumber : Kaskus Regional Papua)




Read more...

Renungan Anak Kampung

Salah satu sisi buruk kebijakan pendidikan di Indonesia yaitu adanya perbedaan antara sekolah favorit di kota besar dan sekolah pinggiran di daerah terpencil (remote area). Lalu Ujian Akhir Nasional (UAN) diadakan untuk menyamakan kualitas lulusan. Oleh karena fasilitas pendidikan di masing-masing sekolah memiliki mutu bervariasi, maka kebijakan nasional ini seperti adu balap antara pengedara mobil dan pejalan kaki di jalan tol. Karena pendidikan diarahkan untuk memenuhi pasar tenaga kerja, maka pendidikan di kampung terpencil yang minim fasilitas akan menghasilkan buruh kasar dan terbelit kemiskinan. Orang miskin tetap saja akan miskin dan orang kaya akan makin kaya.

Salah satu kelompok siswa yang potensial menjadi korban dari system ini adalah anak-anak di kampong-kampung terpencil di Papua. Laporan Gubernur Papua tahun 2007 menyebutkan “education in Papua villages was mostly ineffective, non-formal education to empower the community was not well developed” dengan 6 (enam) persoalan utama yaitu masalah guru dan tutor, masalah domisili siswa yang jauh dari pusat belajar, masalah model pendidikan di kampong, masalah peralatan pendidikan, masalah infrastruktur pendidikan, dan masalah partisipasi public (PEOPLE DRIVEN DEVELOPMENT : Report From Trip to Papuan Villages by Governor Barnabas Suebu and Vice Governor Alex Hesegem 2007, p. 13 – 15). Kondisi ini berpotensi menciptakan beberapa bentuk akibat buruk bagi anak-anak dan masyarakat kampong misalnya:

(1). Anak-anak belajar hanya supaya bisa lulus ujian dan bukan supaya memiliki pengertian, ilmu pengetahuan dan keterampilan.
(2). Banyak siswa yang tidak dapat lulus Ujian Nasional dan harus mengulang. Sementara umur siswa bertambah. Akibatnya, umur produktif siswa makin banyak yang habis di bangku sekolah
(3). Kalau siswa lulus ujian nasional, kemungkinan mereka akan mengalami masalah untuk lulus dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru. Siswa lulusan kampong sulit bersaing dalam mendapatkan pendidikan di Universitas.
(4). Jika mereka lulus dalam seleksi penerimaan mahasiswa, mereka kesulitan untuk mengikuti proses pendidikan di universitas dan membuat mereka frustrasi untuk meneruskan pendidikan lebih lanjut.
(5). Pada umumnya mereka yang drop out baik di sekolah menengah maupun di perguruan tinggi akan frustrasi dan melakukan tindakan-tindakan yang merugikan bagi masyarakat maupun gereja, seperti mabuk, berkelahi, dll.
6). (Kalau mereka berhasil mendapatkan kerja, maka pekerjaan yang diperoleh pada umumnya low level karena minimnya ketrampilan. Tapi pada umumnya yang terjadi adalah anak-anak kampong lebih banyak kembali ke kampong tanpa pekerjaan tetap.

Baik dari kepentingan masa depan anak sendiri, kepentingan suku & keret (marga), dari kepentingan pembangunan kampong maupun dari kepentingan pembangunan mental spritual, situasi ini memberikan kontribusi negative. Oleh sebab itu, keadaan ini harus ditangani secara bersama. (Korido, 3 Juli 2010, by Yosef Rumaseb)
Read more...

:::PENGUNGUMAN:::
English French German Spain Italian Dutch